Semangat juang mahasiswa baru STAI DDI Maros patut menjadi teladan. Salah satunya datang dari Zul Fahmi, mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Kelas A Semester I, yang menjalani perkuliahan sambil berjualan es cincau dan nasi kuning di lingkungan kampus. Keterbatasan ekonomi keluarga tidak menyurutkan langkahnya untuk menempuh pendidikan tinggi, justru menjadi motivasi untuk terus berusaha.
Lahir di Maros pada 13 Februari 2007, Zul Fahmi merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara pasangan Hamidah dan Andi Sulthan Idris. Sejak menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Ibadurrahman Sinjai, ia telah terbiasa hidup sederhana dan mandiri. Kini, sebagai mahasiswa baru STAI DDI Maros, ia tetap konsisten menanamkan nilai bahwa doa tanpa usaha tidak akan memberi hasil.
Setiap hari Senin hingga Jumat, Zul Fahmi mulai belajar pukul 10.00 WITA. Ia membonceng jualannya ke kampus. Aktivitas ini dijalaninya dengan rendah hati, meski pada awalnya ada rasa gengsi. “Apa salahnya mencoba? Doa tanpa usaha tidak ada gunanya, begitu pula sebaliknya,” ujarnya.
Tidak hanya tekun berjualan, Zul Fahmi juga dikenal sebagai seorang hafidz Quran. Kemampuannya menjaga hafalan Alquran di tengah aktivitas kuliah dan usaha menjadi bukti bahwa kesungguhan dapat menembus keterbatasan. Alamat tinggalnya di Butta Toa, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros, tidak menghalangi semangatnya untuk selalu hadir tepat waktu dan konsisten mengikuti perkuliahan.
Kisah Zul Fahmi menjadi bukti nyata bahwa kerja keras, keteguhan hati, dan keberanian untuk memulai mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. Pesannya kepada teman-teman mahasiswa sederhana namun penuh makna: “Tetaplah berusaha dan jangan malu untuk memulai.”