Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Maros kembali mencatat sejarah penting dalam dunia pendidikan tinggi di Kabupaten Maros. Pada Senin, 1 September 2025, STAI DDI Maros resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan dua perguruan tinggi dari Jakarta, yaitu Universitas LIA Jakarta dan Tanri Abeng University jakarta. Kegiatan ini dirangkaikan dengan seminar bertema “Pembelajaran Bahasa” yang berlangsung di kampus STAI DDI Maros.

Acara ini dihadiri oleh civitas akademika STAI DDI Maros, antara lain Ketua LPPM selaku moderator, Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Ketua Prodi Ekonomi Syariah, Sekretaris LPM, serta Kepala Bagian Kemahasiswaan. Tidak hanya itu, hadir pula langsung Rektor Universitas LIA Jakarta, Assoc. Prof. Dr. Siti Yulidhar Harunasari, M.Pd., bersama Wakil Rektor I Wakil Rektor Bidang Akademis, Kemahasiswaan, dan Hubungan Masyarakat Ismarita Ramayanti, Ph.D. Dari Tanri Abeng University Jakarta, turut hadir Plt. Rektor, Associate Prof. Dr. Sayanto, SE., MM., M.Ak., Ak., CC. Kehadiran para pimpinan perguruan tinggi ini mempertegas keseriusan kerja sama lintas daerah tersebut.

Ketua STAI DDI Maros, Muhammad Azmi, M.Pd.I., dalam sambutannya menegaskan bahwa penandatanganan MoU sekaligus seminar ini merupakan kegiatan akademik awal yang menandai dimulainya Tahun Akademik 2025/2026. “Kolaborasi ini membuka peluang besar bagi mahasiswa kami untuk belajar lebih luas. Ada pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, dan pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri. Dengan begitu, lulusan STAI DDI Maros dapat bersaing secara nasional bahkan internasional,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi seminar pembelajaran bahasa, Ketua STAI DDI Maros juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas bahasa, baik bagi mahasiswa maupun dosen. Menurutnya, mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke jenjang S2 membutuhkan kemampuan bahasa Inggris yang dibuktikan melalui tes TOEFL. Hal serupa juga berlaku bagi dosen yang ingin melanjutkan studi ke jenjang S3. Melalui kerja sama ini, STAI DDI Maros berharap dosen-dosen dapat meningkatkan keterampilan bahasa asing mereka sehingga lebih siap menghadapi tantangan akademik di tingkat lanjut.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Maros, Ismail Suardi Wekke, turut memberikan pandangannya. Ia menekankan bahwa dunia pendidikan tidak lagi dibatasi sekat geografis. “Kerja sama ini bukti nyata bahwa pendidikan tidak mengenal batas wilayah. Mahasiswa Maros bisa mendapat perspektif global, akses ke ilmu terbaru, dan pengalaman lebih kaya. Ini penting agar lahir generasi yang bukan hanya cerdas, tapi juga siap bersaing secara global,” tegasnya.

Seminar yang berlangsung sebelum penandatanganan MoU menghadirkan pakar dari Universitas LIA dan Tanri Abeng University. Para pakar menyoroti pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan pemerintah dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja. Kurikulum adaptif, program magang, hingga proyek kolaboratif diyakini menjadi kunci dalam menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik di lapangan. Melalui MoU ini, ruang kerja sama terbuka luas mencakup penelitian bersama, publikasi ilmiah, pertukaran dosen dan mahasiswa, pengembangan kurikulum, serta penyelenggaraan seminar dan lokakarya kolaboratif. Dengan langkah strategis ini, STAI DDI Maros menegaskan komitmennya untuk terus berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang unggul, berdaya saing lokal, nasional, hingga internasional.