Refleksi Ramadhan 2 : Menghidupkan Kesadaran Al Malik dalam Beraktivitas

Muhammad Azmi, S.Pd.I.,M.Pd.I
Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam STAI DDI Maros

Memasuki hari kedua Ramadhan, ritme kehidupan mulai kembali berjalan normal. Setelah hari pertama diwarnai suasana kekeluargaan, sahur bersama, silaturahmi, dan buka puasa di rumah atau kampung halaman, hari kedua biasanya menjadi momentum kembali ke ruang-ruang kerja dan aktivitas sosial lainnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa lebih dari 140 juta penduduk Indonesia tergolong angkatan kerja aktif, dan mayoritas tetap menjalankan aktivitas produktif selama Ramadhan, ibadah puasa tidak menghentikan roda kehidupan, melainkan mengiringinya dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam. Dalam konteks inilah nilai Al-Malik, Allah sebagai Pemilik dan Penguasa seluruh alam perlu diinternalisasikan dalam aktivitas keseharian.

Al-Malik menanamkan kesadaran bahwa segala kekuasaan, jabatan, dan otoritas yang dimiliki manusia hanyalah titipan. Di hari kedua Ramadhan, pertemuan antara atasan dan bawahan, kolega, serta mitra kerja menjadi ruang aktualisasi nilai ini. Seorang pemimpin menyadari bahwa posisinya bukan untuk mendominasi, tetapi untuk melayani dengan adil dan amanah. Seorang pegawai pun memahami bahwa tanggung jawab profesional adalah bagian dari pengabdian kepada Allah. Studi tentang produktivitas kerja selama Ramadhan di berbagai negara muslim menunjukkan bahwa meskipun jam kerja menyesuaikan, komitmen dan etos kerja tetap terjaga ketika nilai spiritual menjadi landasan moral. Ini menunjukkan bahwa kesadaran ketuhanan justru memperkuat integritas profesional.

Internalisasi nilai Al-Malik menuntut disiplin dan pengendalian diri. Ramadan melatih manusia menahan lapar dan dahaga; pada saat yang sama,  melatih pengendalian ego, ambisi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Dalam perspektif khalifatan fi al-ardh, manusia diberi amanah untuk mengelola bumi dengan tanggung jawab. Aktivitas dunia menyelesaikan tugas, melayani masyarakat, memimpin rapat, atau menjalankan usaha bisnis bukanlah aktivitas sekuler yang terpisah dari ibadah, tetapi bagian dari manifestasi amanah Ilahi. Ketika nilai Al-Malik dihayati, setiap keputusan diambil dengan kesadaran bahwa ada pertanggungjawaban moral di hadapan Tuhan.

Pada akhirnya, hari kedua Ramadhan menjadi latihan keseimbangan antara spiritualitas dan profesionalitas. Nilai Al-Malik membimbing manusia agar tidak terjebak dalam ilusi kekuasaan, tetapi tetap rendah hati dan adil. Dari sinilah jalan menuju insan kamil terbuka: manusia yang utuh secara ruhani dan matang secara sosial, mampu memimpin dengan kebijaksanaan, bekerja dengan integritas, dan menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi. Ramadhan bukan hanya ruang penguatan ibadah personal, tetapi  juga proses penataan kepemimpinan diri dan tanggung jawab sosial agar setiap peran yang dijalani menjadi bagian dari pengabdian kepada Sang Pemilik sejati.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *