Satukan IMM, KOPRI, dan KOHATI, HMP PAI STAI DDI Maros Gelar Dialog Hari Kartini

Maros, 21 April 2026 — Peringatan Hari Kartini di STAI DDI Maros tak berhenti pada seremoni. HMP PAI STAI DDI Maros periode 2026–2027 justru menjadikannya sebagai ruang dialektika kritis dengan menghadirkan dialog bertema “Meneguhkan Keperempuanan dalam Perspektif Kartini: Membangun Perempuan Tangguh, Berdaya, dan Berperan Strategis di Era Modern” di Aula Kampus, yang dihadiri mahasiswa dan ormawa dengan antusias.

Forum ini menegaskan bahwa semangat R.A. Kartini bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan pijakan untuk membaca ulang posisi perempuan di tengah realitas sosial yang terus berubah.

Ketua STAI DDI Maros, Muhammad Azmi, S.Pd.I., M.Pd.I., menegaskan bahwa perempuan tidak boleh berhenti pada peran simbolik. “Perempuan tidak cukup hanya hadir, tetapi harus mampu memberi arah dan dampak,” tegasnya, menyoroti pentingnya kapasitas, keberanian berpikir, dan kesiapan mengambil posisi strategis.

Dialog ini mempertemukan tiga organisasi perempuan: IMM, KOPRI PMII, dan KOHATI HMI Cabang Maros. IMMawati Rezki Ramadhani menegaskan bahwa keperempuanan adalah kekuatan yang berakar pada pendidikan dan kemandirian, bukan keterbatasan.

Sahabati Juliani dari KOPRI PMII mengingatkan bahwa terbukanya akses hari ini tidak otomatis menghadirkan kebebasan yang substansial. Ia menyoroti risiko “kebebasan semu” jika perempuan tidak dibekali kesadaran kritis dalam menghadapi konstruksi sosial yang masih bias.

Sementara itu, Ayunda Fitriani dari KOHATI HMI menekankan bahwa peran strategis perempuan mencakup dua ruang sekaligus: publik dan domestik. Sebagai al-madrasah al-ula, perempuan memegang peran fundamental dalam membentuk generasi, sekaligus dituntut hadir sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.

Dialog ini menjadi penegasan bahwa perjuangan Kartini belum selesai. Perempuan hari ini dituntut tidak hanya berdaya, tetapi juga berani mengambil peran dan menentukan arah perubahan.

Melalui forum ini, HMP PAI STAI DDI Maros mengirim pesan tegas: semangat Kartini harus diterjemahkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar diperingati, agar lahir perempuan yang tangguh, berdaya, dan berpengaruh dalam kehidupan sosial.

Penulis: A. Nurul Haliza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *