Menghidupkan Tradisi Kitab Kuning: Catatan Pengabdian dari DDI Mangkoso

Kembali ke kitab kuning berarti kembali ke jantung tradisi keilmuan Islam. Inilah semangat yang dibawa program Takhassus Kitab Kuning yang saya jalankan di Pondok Pesantren DDI Mangkoso sebagai bagian dari pengabdian saya sebagai Dosen STAI DDI Maros.

Setiap sore dan malam hari, santriwati-santriwati berkumpul di Mushollah. Mereka datang dengan satu harapan: bisa membaca kitab gundul tanpa takut salah. Kami belajar bertahap—mulai dari dasar nahwu-sharaf, kitab akhlak Hilyatus Syabāb, hingga Fathul Qarīb untuk memperkuat pemahaman fikih.

Metode belajar kami sederhana tapi efektif. Ada sorogan untuk melatih keberanian, bandongan untuk memperkaya wawasan, dan ceramah-interaktif untuk mengaitkan teks klasik dengan kehidupan modern. Semuanya dibungkus dalam Metode at-Tikrār, karena dalam belajar kitab, pengulangan adalah kunci emas.

Alhamdulillah, hasilnya sangat membesarkan hati. Anak-anak binaan kami berhasil meraih prestasi di ajang MQK hingga tingkat nasional—Juara 2 Tauhid dan Juara 3 Akhlak.

Setiap prestasi itu bukan hanya kemenangan mereka, tapi juga bukti bahwa tradisi turats tetap hidup, relevan, dan terus memberi cahaya bagi generasi masa kini.

Oleh: Muh. Ilham Azis, S.H., M.H. (Dosen Prodi HKI STAI DDI Maros)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *