Pendahuluan
Kegiatan pengabdian masyarakat merupakan salah satu pilar penting dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sebagai bagian dari tugas kampus STAI DDI Maros, penulis melaksanakan program Takhassus Kitab Kuning di Kampus 3 Putri Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru. Program ini menjadi ruang pembinaan intensif bagi para santiwati dan mahasiswa—khususnya santri putra di Ma’had al-Jāmi‘ah IAI DDI Mangkoso—untuk memperkuat kemampuan membaca dan memahami turats Islam.
Kegiatan ini dirancang secara sistematis dengan pendekatan yang memadukan metode tradisional pesantren dan metode pembelajaran modern. Fokus utama program ini adalah membentuk kemampuan baca kitab yang kokoh, karena dalam tradisi keilmuan Islam dikatakan:
«مَنْ لَمْ يَعْرِفِ النَّحْوَ وَالصَّرْفَ فَهُوَ كَمَنْ دَخَلَ بَحْرًا وَلَا سَفِينَةَ لَهُ»
“Barang siapa tidak menguasai nahwu dan sharaf, maka ia seperti orang yang memasuki lautan tanpa perahu.”
Materi Pembelajaran
Materi kitab disusun berdasarkan jenjang kemampuan peserta:
Tingkat Pemula
Menggunakan Teori Dasar Nahwu-Sharaf Metode al-Bidāyah sebagai pondasi awal. Fokusnya adalah pengenalan pola kata, i‘rāb dasar, dan prinsip-prinsip membaca teks Arab gundul.
Tingkat Menengah
Mengkaji Hilyatus Syabāb, karya akhlak monumental Anregurutta KH. Abdurrahman Ambo Dalle. Kitab ini dipilih karena bernilai historis, relevan dengan pembinaan karakter, dan dekat dengan tradisi keulamaan Bugis-Makassar.
Tingkat Lanjutan
Menggunakan Fathul Qarīb al-Mujīb, salah satu kitab fikih Syafi‘i paling representatif untuk penguatan manhaj fiqih dan kemampuan membaca syarah.
Penyusunan bertingkat ini bertujuan menyiapkan santri untuk tidak hanya sekadar membaca, tetapi memahami struktur, logika, dan manhaj kitab.
Metode Pembelajaran: Sorogan, Bandongan, dan Ceramah Interaktif
Dalam kegiatan ini, penulis menerapkan kombinasi tiga metode utama:
Sorogan – santri membaca langsung di depan pembimbing, kemudian dikoreksi satu per satu.
Bandongan – pembimbing membacakan dan mensyarahkan, sementara santri mencatat.
Ceramah-Interaktif – memberi ruang diskusi, tanya jawab, dan penerapan contoh-contoh kekinian.
Kombinasi ini kemudian penulis namai Metode at-Tikrār (متابعة التكرار), karena kunci utama keberhasilan baca kitab adalah mujāhadah dan pengulangan yang konsisten. Murāja‘ah menjadi ruh yang mengokohkan hafalan struktur gramatikal serta mempercepat kelancaran membaca.
Waktu Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan setiap hari dua kali:
Ba’da Ashar
Malam hari pukul 21.00–22.30
(Tidak dilaksanakan pada malam Jumat)
Frekuensi yang padat ini memberi ruang pembiasaan yang efektif dan menjadi alasan utama perkembangan peserta berlangsung cepat.

Tujuan Program
Program Takhassus Kitab Kuning bertujuan:
Meningkatkan kemampuan baca kitab peserta secara bertahap dan terstruktur.
Menanamkan kedisiplinan, etika belajar, dan kecintaan terhadap tradisi keilmuan Islam.
Menyiapkan generasi muda pesantren yang mampu membaca, memahami, dan mengajarkan turats.
Menghidupkan kembali tradisi ilmiah di Pondok DDI Mangkoso secara lebih terarah.
Dukungan Institusi
Kegiatan ini merupakan mandat resmi dari STAI DDI Maros sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat. Kampus memberikan dukungan administratif, legalitas kegiatan, serta monitoring berkala terhadap capaian pembelajaran. Dukungan ini memperkuat sinergi antara kampus, pesantren, dan masyarakat sekitar.
Hasil dan Dampak Kegiatan
Program ini telah menunjukkan hasil yang sangat menggembirakan. Sejumlah santri binaan mampu meraih prestasi dalam ajang Musabaqah Qirā’atil Kutub (MQK) di berbagai level:
Juara di tingkat Madrasah
Juara tingkat Kampus
Juara tingkat Pondok
Juara tingkat Provinsi
Juara 2 Nasional – Kitab Syarh Ummul Barāhin (Tauhid)
Juara 3 Nasional – Kitab Minhājul ‘Ābidīn (Akhlak)
Prestasi ini menjadi bukti konkret bahwa komitmen, metode yang tepat, dan pembinaan yang konsisten dapat menghasilkan kader-kader unggul di bidang literasi kitab kuning.
Penutup
Program Takhassus Kitab Kuning Metode at-Tikrār bukan hanya sekadar kegiatan membaca teks turats, tetapi sebuah upaya pelestarian tradisi keilmuan Islam yang telah diwariskan oleh para ulama. Melalui kegiatan ini, santri dan mahasiswa tidak hanya belajar membaca, tetapi juga berlatih berfikir, bermoral, dan meneladani akhlak para ulama.
Oleh: Muh. Ilham Azis, S.H., M.H.