Maros, 30 Juli 2025 – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat STAI DDI Maros sukses menyelenggarakan kegiatan Kampung Literasi Jilid I yang berlangsung selama lima hari, sejak Sabtu hingga Rabu, 26–30 Juli 2025. Kegiatan dipusatkan di Langgar Majelis Al-Khidir, Perumahan Pesona Adnin, Kelurahan Terigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros.
Mengusung tema “Literasi Menjaga Budaya, Menata Masa Depan,” kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca serta kesadaran kritis kader PMII dalam menghadapi tantangan zaman. Hadir dalam pembukaan sejumlah pengurus cabang PMII Kabupaten Maros serta kader-kader komisariat dari berbagai tingkatan.
Sekretaris panitia, Muh Alif Afdilla, menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih untuk menegaskan bahwa literasi bukan semata kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan juga sebagai sarana melestarikan budaya serta menata arah masa depan yang sadar nilai dan identitas. “Literasi hari ini harus menjadi alat melawan arus globalisasi yang kerap mengikis kearifan lokal,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Komisariat PMII STAI DDI Maros, Alimin, menekankan pentingnya membaca dalam makna luas. “Kampung Literasi ini mengajarkan kader untuk tidak hanya membaca buku, tetapi juga membaca zaman, membaca lingkungan, dan membaca potensi diri. Menjaga budaya adalah tugas mulia, menata masa depan adalah tanggung jawab bersama,” jelasnya.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta juga diberi tanggung jawab untuk mengelola dan memakmurkan musholla Langgar Majelis Al-Khidir. Mereka terlibat aktif dalam menjaga kebersihan, mengatur jadwal ibadah berjamaah, hingga menyusun kegiatan keagamaan harian. Hal ini menjadi bagian dari proses pendidikan karakter, di mana literasi dipahami tidak hanya melalui teks, tetapi juga melalui tindakan nyata di ruang sosial.
Ke depan, PMII STAI DDI Maros berencana menjadikan Kampung Literasi sebagai agenda tahunan yang lebih inklusif dan menyasar masyarakat sekitar. “Kami berharap program ini bisa menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat, termasuk anak-anak dan orang tua,” tutur Alimin. Ia juga menambahkan bahwa keberlanjutan literasi harus menjadi komitmen kolektif seluruh elemen gerakan mahasiswa, tidak hanya sebagai program seremonial, tetapi sebagai gerakan perubahan.
Laporan: Alif Afdhilla, Mahasiswa Prodi HKI dan Aktivis PMII Komisariat STAI DDI Maros